Postage everyday except Public Holiday. Postage Fee only RM5.50 for 3kg first SM/SS. Happy shopping!! Shop Now!
Cart 0
010F65CC-2B76-4B27-BA1F-80143AE766EA.jpeg

Amba by Laksmi Pamuntjak

RM 52.00



Amba
Penulis : Laksmi Pamuntjak
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
.
“Politik memang bukan apa yang benar. Politik adalah bagaimana kita bisa salah dgn benar.”

Dilahirkan dari sebuah keluarga yang mencintai epos Mahabarata, Amba diberikan nama layaknya Putri Amba dari Kerajaan Kasi yang hidup tragis karena ditolak oleh dua ksatria dalam hidupnya, Salwa dan Bisma. Ayahnya percaya bahwa Amba, anaknya, tidak akan tunduk pada tafsir umum wewayangan, namun dia akan mampu memberi makna baru dalam namanya. Novel mengalir dan mengisahkan bagaimana hidup Amba nampaknya mengikuti alur kehidupan Putri Amba dalam epos tersebut. Amba yang sudah terikat pertunangan dengan Salwa harus jatuh hati ke pelukan dokter lulusan Jerman Timur bernama Bisma. Goncangan politik pada tahun 1965 dan kedekatan Bisma dengan paradigma kiri pada saat itu membuatnya harus terbuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik dan meninggalkan Amba serta janin yang ada di kandungannya. Berpuluh-puluh tahun setelah perpisahan itu, Amba kembali ke Pulau Buru untuk menemukan Bisma yang tak pernah kembali dan berdamai dengan dirinya sendiri.


Setidaknya novel ini cemerlang dalam dua hal. Pertama, pengembangan karakter utama lumayan kuat. Kedua, deskripsi naratif tentang kehidupan tahanan politik di Pulau Buru pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an cukup detil dan memukau. Laksmi juga bersinar dengan narasinya tentang berbagai literatur puisi, sajak, dan sejarah yang menghiasi novel sejak fragmen awal. Terlepas dari berbagai hal tersebut, this novel is just not my cup of tea. Plot berjalan sangat, sangat lambat. Meskipun deskripsi latar tempat cukup baik dalam menopang cerita, namun tidak cukup istimewa untuk memantik imajinasi pembaca. Selain itu, dikarenakan pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris, terdapat beberapa diksi yang, mungkin, tidak memiliki kedalaman makna yang setara ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga terdengar cukup asing dalam susunan kalimat yang dirangkai. Teknis penulisan untuk dialog dengan kalimat langsung juga sedikit membingungkan, terkadang menggunakan tanda petik, namun juga tak jarang menggunakan huruf miring.

Customer comments

Author/Date Rating Comment