Postage everyday except Public Holiday. Postage Fee only RM5.50 for 3kg first SM/SS. Happy shopping!! Shop Now!
Cart 0

Mahar Untuk Maharani by Azhar Nurun Ala

RM 35.00


*SINOPSIS*

Dikiranya, suatu hari ia akan taubat dan belajar menjadi orang yang benar karena azab atau badan yang sudah bau tanah. Disangkanya, akan ada satu momen yang membawanya ke titik kehancuran, hingga ia tak lagi punya pilihan kecuali terus bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Rupanya tidak. Perasaan jatuh cintalah yang mengubah Salman, memberinya energi untuk secara sukarela menyulap dirinya menjadi orang yang sama sekali berbeda. Lalu adalah Maharani, orang paling bertanggung jawab atas episode hidup yang baru itu. Sejak pertemuan kembali dengan Maharani, perempuan yang pernah menjadi teman masa kecilnya, Salman melanjutkan hidup dengan moto yang begitu gagah: Amor Vincit Omnia—cinta menaklukkan segalanya.

Di lain sisi, Dimas, sahabat karibnya yang selama hidup sudah berpacaran dengan lima belas perempuan yang berbeda, tak pernah bisa melupakan cinta pertamanya. Barangkali karena baginya, cinta pertama ada memang bukan untuk dilupakan. ‘Orang yang paling bahagia adalah orang yang menikah dengan cinta pertamanya.’ tulisnya di blog suatu hari, ‘Sebab pernikahannya tak akan dibayang-bayangi oleh kenangan-kenangan manis bersama orang lain. Bahkan, meski setelah cinta pertama itu ada cinta-cinta selanjutnya, tak ‘kan ada manusia yang benar-benar sanggup melupakan cinta pertamanya.”

Maharani, tanpa perlu banyak pertimbangan, telah memantapkan hatinya untuk Salman. Sayangnya, kemantapan hati yang sama tak dirasakan oleh Pak Umar. Sebagai ayah, ia tak mau anak perempuan satu-satunya terbuai omong kosong soal cinta. Baginya, segalanya sederhana saja. Kalau seorang laki-laki belum selesai dengan dirinya, tiada mungkin ia bisa membahagiakan orang lain. Dalam hal ini, posisi Dimas di atas angin: lulus 3,5 tahun, berpekerjaan tetap yang gajinya lebih dari cukup untuk sebuah rumah tangga baru, sudah punya mobil walau cicilan, dan anak Pak Haji Kahfi—orang terpandang di Dusun Sukatani sekaligus sahabat baik Pak Umar.

Berlindung di balik Sabda Rasulullah ‘…tidak dinikahi seorang gadis kecuali atas izinnya,’ untuk kali pertama dalam hidupnya Maharani melawan keputusan Sang Ayah. Pak Umar melunak. Salman diberi waktu satu tahun untuk menyelesaikan kuliah, memiliki pekerjaan yang pantas, dan menyiapkan Mahar terbaik untuk menikahi Maharani. Konyolnya, setelah mendapat gelar sarjana dari Universitas Indonesia, Salman justru pulang ke kampung halaman dan memilih untuk menanam kangkung di ladang depan rumahnya.

Maharani mencoba mengerti. Pak Umar mengerutkan dahi—ia tak rela putri kesayangannya menikah dengan seorang petani.

*KATA PEMBACA*

“Novel ini fiksi. Tapi data-data yang disajikan membuatnya terasa begitu semakin nyata. Pengemasan nilai-nilai kebaikannya juga terasa natural dan berimbang. Kalau novel-novel sebelumnya sangat kental nuansa religi, di Mahar untuk Maharani juga terasa tapi sangat halus penyampaiannya dalam setiap adegan.” – Anna Nurjanah

Customer comments

Author/Date Rating Comment